Selamat Datang di pengadilan agama Samarinda   Click to listen highlighted text! Selamat Datang di pengadilan agama Samarinda Powered By GSpeech

WhatsApp Image 2020 02 15 at 13.34.59

Written by Super User on . Hits: 1208

SYAITHAN TERBELENGGU DI BULAN RAMADHAN

Oleh: Taufikurrahman.

 

(Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda: Apabila Ramadhan tiba, dibukakan pintu langit, ditutup pintu-pintu neraka dan syaitan dibelenggu. HR. Bukhari).

Hadits  di atas menjelaskan tentang keistemewaan bulan ramadhan, salah satunya yang menjadi pembahasan dalam artikel ini adalah syaithan dibelenggu.   Apa makna yang dapat  kita ambil dari hadits di atas. Sebab dalam  pemahaman kita bahwa syaithan selalu berusaha menggoda manusia, seperti menunda ibadah, dan bila ibadah tetap dikerjakan digodanya untuk tidak konsentrasi, tidak ikhlas atau merasa terpaksa dan lain lain.

 Lalu apakah di bulan ramadhan seperti sekarang ini, syaithan juga tetap aktif menggoda manusia. Ataukan syaitan telah dibelenggu sehingga ia tidak dapat menggoda manusia. Seperti hadits di atas, apabila ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup serta syaitan dibelenggu.

Kalau yang dimaksud syaithan dibelenggu pada bulan ramadhan, berarti ia tidak mempunyai kesempatan menggoda manusia, maka manusia tidak akan berbuat dosa dan melanggar aturan hukum. Selanjutnya manusia lebih rajin beribadah, lebih dekat dengan Allah dan lebih harmonis hubungannya dengan manusia lainnya. Tidak ada lagi perkelahian, pertengkaran suami istri juga tidak akan terjadi, perselisihan pendapat diantara teman juga akan terhindar. Pokoknya manusia dengan potensi akalnya pasti akan melakukan perbuatan yang diridhoi Allah dan menjauhi dari segala perbuatan yang dimurkaiNya.

Namun dalam kenyataan sehari-hari di bulan ramadhan, masih ada perkelahian, pelanggaran hukum, masih banya yang meninggalkan ibadah. Bahkan di bulan ramadhan, masih ada yang meninggalkan puasa tanpa alasan yang syar’i. Atau berpuasa tetapi tidak dapat menjaga mulut dari dusta, ghibah, namimah dan lain lainnya. Tangan dan kaki serta anggota lain belum dijaga dengan baik sehingga tanpa disadari menyakiti orang lain. Semua tindakan itu dapat membatalkan pahala puasanya, lalu apakah semua itu terjadi karena godaan syaithan padahal syaithan telah terbelenggu.

Menurut Al-Hulaimi, belenggu kepada syaitan itu hanya terjadi pada malam-malam ramadhan, bukan pada siang harinya, karena pada masa turunnya Al-Qur’an syaitan-syaitan telah dihalangi untuk mencuri berita. Kemudian mereka dibelenggu untuk menjamin keamanan. Ada pula kemungkinan yang dimaksud dengan syaitan dibelenggu itu adalah karena bulan ramadhan syaitan tidak mengganggu kaum muslimin, karena kaum muslimin sibuk melaksanakan ibadah puasa, dimana dalam berpuasa mereka berusaha mengekang nafsu syahwat dan sibuk berzikir serta membaca Al Qur’an.

Menurut Al-qadhi Iyadh, terbelenggunya syaitan adalah karena penghormatan terhadap bulan ramadhan, hal ini memberikan isyarat bahwa di bulan ramadhan Allah memberikan pahala yang banyak dan pengampunan kepada orang-orang yang beriman sehingga berkurangnya gangguan syaitan, karena seolah-olah syaitan seperti orang yang terbelenggu, tidak mampu membuat tipu daya dan menghiasi syahwat.

Menurut Al-Qurtubi, sesungguhnya gangguan syaitan hanya berkurang bagi orang yang berpuasa dan dapat memelihara syarat dan rukun puasa serta memelihara adabnya. Atau yang dibelenggu itu hanya sebagian syaitan, yaitu para pembangkangnya saja. Atau yang dimaksud dengan berkurangnya kejahatan di bulan ramadhan merupakan perkara yang dapat dirasakan, karena kejahatan di bulan ramadhan lebih sedikit dibanding pada bulan-bulan lainnya. Jika syaitan telah dibelenggu sesuai hadits, tidak berarti semua kejahatan dan kemaksiatan tidak terjadi. Karena terjadinya kemaksiatan disebabkan oleh faktor lain seperti jiwa yang buruk, kebiasaan tidak baik serta syaitan dari jenis manusia.[1]

Dibelenggunya syaitan pada bulan ramadhan perlu kita pahami bahwa tidak ada alasan bagi setiap mukallaf untuk tidak berpuasa. Seakan-akan dikatakan kepada kita, bahwa syaitan telah dijauhkan darimu, maka janganlah berdalih untuk meninggalkan ketaatan dan tidak pula mengerjakan kemaksiatan.

(Samarinda, 8 Ramadhan 1443 H).

 

[1] Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathu al-Baari, juz 4, (Mesir; Dar al-Fikr, t.th.), h. 112-115.

 

Download File PDF

Hubungi Kami

Pengadilan Agama Samarinda

JL. Ir. H. JUANDA NO 64. SAMARINDA
KALIMANTAN TIMUR

 

Telp: 0541-742018

Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Email Tabayun : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

fb.logo instagram 1581266 960 720

maps1 Lokasi Kantor

Copyright IT Support PA.Smd@2025
Click to listen highlighted text! Powered By GSpeech